Selasa, 03 Februari 2009

Dengue Haemmorrhagic Fever (DHF/Demam Berdarah Dengue)

I. Definisi DBD
Penyakit dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh aerbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes albopictus dan Aedes Aegypti). Penyakit ini sebenarnya telah ditemukan di Jakarta pada tahun 1779 oleh Dr. David Baylon dan beliau menamakan penyakit ini Knokkel Koorts karena pasiennya mengeluh sakit pada sendi-sendi.
II. Etiologi
Virus dengue termasuk dalam kelompok arbovirus B dikenal 4 serodpe virus yang tidak mempunyai imunitas silang yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk Aedes Albopictus, Aedespolynesiensis dari beberapa spesies lain merupakan vector yang kurang berperan.
III. Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya renjatan berdasarkan The secondary Heterologoas infection Hyphothesis dapat dilihat pada rumusan yang dikemukakan oleh Suvatte (1977) yaitu akibat infeksi kedua oleh tipe virus yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibody anti dengue yang rendah, maka respons antibody anamnestik yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan liter, tinggi antibody 19G anti dengue. Di samping itu replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-antibodi (Virus-antibodi kompleks) yang selanjutnya :
1. Akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding itu. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan berakhir dengan kematian.
2. Dengan terdapatnya kompleks virus–antibodi dalam sirkulasi darah maka mengakibatkan trombosit kehilangan fungsi agregasi dan mengalami metamorfosis, sehingga dimusnahkan oleh sistem RE dengan akibat terjadi trombositopenia hebat dan perdarahan. Di samping itu, trombosit yang mengalami metamorfosis akan melepaskan factor trombosit 3 yang mengaktivasi sistem koagulasi.
3. Akibat aktivasi factor Hageman (faktor XII) yang selanjutnya juga mengaktivasi sistem koagulasi dengan akibat terjadinya pembekuan intravaskuler yang meluas. Dalam proses aktivasi ini maka plasminegan akan berubah menjadi plasmin yang berperan pada pembentukan antifilaktosin dan penghancuran fibrin menjadi Fibrin Degradation Product (FDP).
IV. Gambaran Klinik
Penyakit ini ditandai oleh demam mendadak tanpa sebab yang jelas disertai gejala lain seperti lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan, punggung, sendi, kepala, dan perut. Gejala-gejala tersebut menyerupai influenza biasa. Pada hari ke-2 atau ke-3 demam muncul dalam bentuk perdarahan yang beraneka ragam dimulai dari yang paling ringan berupa perdarahan dibawah kulit (petekia/ekimosis), perdarahan gusi, epitaksis, sampai perdarahan hebat berupa muntah darah akibat perdarahan lambung, melena dan juga hematuria majif.
V. Masa Inkubasi
Selain perdarahan juga terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi makin lemah, ujung-ujung jari, telinga, dan hidung teraba dingin dan lembab. Denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.
Menurut patokan dari WHO pada tahun 1975, diagnosis DBD (DHF) harus berdasarkan adanya gejala klinik sebagai berikut :
1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari (tanpa sebab jelas).
2. Manifestasi perdarahan : paling tidak terdapat uji torniquet positif dan adanya salah satu bentuk perdarahan yang lain misalnya petekia, ekimosis, epitaksis, perdarahan gusi, melena, atau hematemesis.
3. Pembesaran hati/hepatomegali (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit)
4. Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai nadi yang menurun (menjadi 20x/’ atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lemah terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut.
Seperti pada infeksi virus dengue juga merupakan suatu Self Limiting Infectious Disease yang akan berakhir sekitar 2-7 hari.
Infeksi virus Dengue pada manusia mengakibatkan suatu spectrum manifestasi klinik yang bervariasi antara penyakit yang paling ringan (Mild Undefferentiated Febrile Iliness), dengue fever, Dengue HaemorrhagicFever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).
- Panas
Panas biasanya langsung tinggi dan terus menerus dengan sebab yang tidak jelas dan hampir tidak bereaksi terhadap pemberian antipiretik (mungkin hanya turun sedikit kemudian naik kembali). Panas ini biasanya berlangsung 2-7 hari. Bila tidak disertai syok maka panas akan turun dan penderita sembuh sendiri (Selflimiting). Di samping panas, maka penderita juga mengeluh malaise, mual, muntah, sakit kepala, anokresia dan kadang-kadang batuk.
- Tanda-tanda perdarahan
- Karena manipulasi
§ Uji Torniquet/Rumpel Leede Test Positif yaitu dengan mempertahankan manset tensimeter pada tekanan antara systole dan diasistole selama 5 menit, kemudian dilihat apakah ada timbul petekie atau tidak di daerah voler lengan bawah.
§ Kriteria :
(+) bila jumlah petekie > 20
(+) bila jumlah petekie 10-20
(-) bila jumlah petekie 10
- Perdarahan spontan :
F Petekie/ekimosis
F Perdarahan gusi (Gum bleeding/epulis)
F Epitaxis/perdarahan dari hidung
F Hematemesis/melena
- Pembesaran Hepar
- Laboratorium
ü Hematokrit/PCV (Packet Cell Volume) meningkat sama atau lebih dari 20%.
ü Normal : PCV/Hm = 3 x Hb
ü Trombosit menurun, sama atau
ü Leukopeni, kadang-kadang
Masa tunas 3-15 hari tetapi rata-rata 5-8 hari. Gejala klinik timbul secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada otot seluruh tubuh, nyeri di belakang kepala hebat, suara serat, batuk, epitaksis serta disuria. Penyakit biasanya akan sembuh sendiri dalam 5 hari dengan penurunan suhu secara fisis. Maka penyakit ini juga disebut Unfalaage koorts (demam 5 hari).
VI. Diagnosis
Hingga kini diagnosis DHF/DSS masih berdasarkan atas patokan yang telah dirumuskan oleh WHO pada tahun 1975 yang terdiri dari 4 kriteria klinik dan 2 kriteria laboratorik. Ternyata dengan menggunakan kriteria WHO di atas maka ketepatan diagnosis berkisar 70-90%.
Kreteria Klinik :
1. Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari, dengan sebab yang tidak jelas dan hampir tidak dapat dipengaruhi oleh antipiretika maupun surface cocling.
2. Manifestasi perdarahan
- Dengan manipulasi yaitu uji terniquet positif
- Spontan yaitu petekie, ekimosis, epitaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok yang ditandai dengan nadi yang lemah dan cepat sampai tak teraba, nadi menurun menjadi 20x/’ atau sampai nol, tekanan darah menurun menjadi 80 mmHg atau sampai nol, disertai kulit yang teraba lembab dan dingin terutama pada ujung jari tangan, kaki dan hidung penderita menjadi lemah, gelisah sampai menurunnya kesadaran dan timbul sianosis di sekitar mulut.
Kreteria laboratorik
Trombositopenia : jumlah trombosit <> 20% atau < 20% dibandingkan dengan nilai pada masa konvalasen.
Mengingat derajat beratnya penyakit bervariasi dan sangat erat kaitannya dengan pengelolaan dan prognosa, maka WHO (1975) membagi DBD dalam 4 derajat setelah kriteria laboratorik terpenuhi yaitu :
Derajat I : Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan uji torniquet positif.
Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
Derajat III : Derajat II ditambah kegagalan sirkulasi ringan yaitu nadi cepat dan lemah, nadi menurun (< 20x/’) atau hipotensi (sistolis < 80 mmHg) disertai kulit yang dingin, lembab, dan penderita gelisah.
Derajat IV : Derajat II ditambah syok berat dengan nadi yang tak teraba dan tekanan darah yang tak terukur, dapat disertai dengan penurunan kesadaran, sianosis dan asidosis
Derajat I dan II disebut DHF/DBD tanpa renjatan sedang derajat III dan IV disebut DHF/DBD dengan renjatan atau DSS.
VII. Demografi
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di daerah tropis terutama di negara Asean dan pasifik barat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes. Di Indonesia dikenal 2 jenis nyamuk Aedes yaitu :
- Aedes Agypti
- Aedes Albopictus
Aedes Agypti
· Paling sering ditemukan
· Adalah nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah yaitu di tempat penampungan air jernih atau tempat penampungan air di sekitar rumah.
· Nyamuk ini sepintas lalu nampak berlurik, berbintik-bintik putih.
· Biasanya menggigit pada siang hari, terutama pada pagi dan sore hari.
· Jarak terbang 100 meter.
Aedes Albopictus
· Tempat habitatnya di tempat air jernih. Biasanya di sekitar rumah atau pohon-pohon di mana tertampung air hujan yang bersih yaitu pohon pisang, pandan, kaleng bekas, dll.
· Menggigit pada waktu siang hari
· Jarak terbang 50 meter.
Insiden
Secara nasional insiden demam berdarah dengue tertinggi. pernah dilaporkan selama tahun 1973 (10.189 kasus) dan tahun 1977 (8.141 kasus).
Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan antara jenis kelamin penderita demam berdarah dengue tetapi kematian lebih banyak ditemukan pada anak perempuan daripada anak laki-laki.
Penyakit ini selalu terjadi tiap tahun di berbagai tempat di Indonesia dan terutama pada musim hujan.
Jumlah penderita DBD/DHF yang mengalami renjatan berkisar antara 25-65% di mana Sumarno, dkk (1985) mendapatkan 63%, Kho, dkk (1979) melaporkan 50%, Rampengan (1986) melaporkan 59,4% dari seluruh penderita demam berdarah dengue yang dirawat.
Akhir-akhir ini berdasarkan beberapa pengalaman klinis baik di Jakarta, kepulauan Tonga, Manila dan Bangkok. Ternyata Dengue Shock syndrome dapat pula terjadi pada penderita yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama kali pada usia lebih dari 1 tahun dan terbukti bahwa sensitivisasi oleh infeksi sebelumnya bukan merupakan faktor utama dalam patogenesis sindrom ini, sehingga timbul dugaan bahwa keempat serotype mempunyai potensi pathogen yang sama dan renjatan terjadi sebagai akibat serotype virus yang paling virulen, tetapi konsep ini masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut.
VIII. Penatalaksanaan DBD
Demam berdarah dengue tanpa disertai pengobatannya hanya bersifat simtomatis dan suportif.
- Pemberian cairan yang cukup
Cairan diberikan untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi akibat dari demam tinggi, anoreksia dan muntah. Penderita perlu diberi minum sebanyak mungkin (1-2 liter dalam 24 jam) berupa air teh dengan gula, sirup atau susu. Pada beberapa penderita dapat diberikan oralit.
- Antipiretik
Seperti golongan Acetaminofen (parasetamol), jangan berikan golongan salisilat karena dapat menyebabkan bertambahnya perdarahan.
- Surface colling
- Antikonvulsan
Bila penderita kejang dapat diberikan :
- Diazepam (valium)
- Fenobarbital (luminal)

Tidak ada komentar: