Selasa, 27 Januari 2009

Pemeriksaan Fisik

1. Pengertian
Pemeriksaan fisik adalah kemampuan mengobservasi secara spesifik dan sistematis terhadap seorang pasien yang dapat mengarahkan tenaga kesehatan untuk memastikan atau mengesampingkan suatu diagnosa (Capernito, 2000: 50).

2. Macam
Macam pemeriksaan fisik menurut Swartz (1995: 49) dalam Buku Ajar Diagnostik Fisik, meliputi:
Inspeksi
Inspeksi dapat memberikan informasi yang banyak sekali. Teknik yang baik memerlukan lebih dari sekedar pandangan sekilas saja. Pemeriksa harus melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan suatu pendekatan sistematik. Penampilan umum mencakup keadaan kesadaran dan perawatan pribadi. Apakah pasien kelihatan sehat atau sakit? Ada beberapa tanda yang dapat membantu pemeriksa. Gizi buruk, mata cekung, cekung di daerah tem­poral, dan kulit kendur berkaitan dengan penyakit kronis.
Pemeriksa harus dapat mengenali tanda-tanda utama peradangan: pembengkakan, panas, kemerahan, nyeri dan gangguan fungsi. Pembengkakan disebabkan oleh edema atau kongesti di dalam jaringan setempat. Panas merupakan sensasi yang disebabkan oleh peningkatan suplai darah ke daerah yang sakit. Kemerahan merupa­kan manifestasi peningkatan suplai darah. Nyeri sering disebabkan oleh pembengkakan yang menyebabkan pe­ningkatan tekanan pada serabut saraf. Akibat nyeri dan pembengkakan, timbul gangguan fungsi.
Varney (1997: 95) menyatakan, pemeriksaan inspeksi yang juga perlu dikaji:
(1) Kepala : Bentuk Kepala, simetris/tidak, rambut kering/tidak, kulit kepala bersih/tidak, rambut rontok/tidak, berketombe/tidak
(2) Muka : Simetris/tidak, pucat/tidak, oederma/tidak
(3) Mata : Simetris/tidak, conjungtiva pucat/tidak, sklera kuning/tidak.
(4) Hidung : Simetris/tidak, bersih/tidak, ada polip/tidak, ada epitaksis/tidak, ada secret/tidak
(5) Mulut : Simetris/tidak, bersih/ tidak, ada stomatitis/ tidak, bibir lembab/kering, ada caries/ tidak, ada epulis/tidak
(6) Telinga : Simetris/tidak, bersih/tidak, pendengaran baik/tidak, ada OMA/OMP/tidak, ada serumen/tidak
(7) Leher : ada pembesaran kelenjar tyroid/tidak, ada JVP/tidak, ada pembesaran kelenjar limfe/tidak
(8) Axila : ada pembesaran kelenjar limfe/tidak
(9) Dada : Simetris/tidak, pernafasan teratur/tidak
(10) Mammae : Simetris/tidak, ada hiperpigmentasi areola/tidak, ada pembengkakan/tidak, ada pus/tidak, ada retraksi puting susu/tidak, ada luka bekas operasi/tidak, kebersihan puting baik/tidak
(11) Abdomen : Simetris/tidak, ada linea nigra/tidak, ada striae gravida/tidak
(12) Genetalia : Bersih/ tidak, ada varises/tidak, ada oedema/tidak, ada lochea rubra / sanguinolenta / serosa / alba / purulenta, bau lochea khas / busuk, berapa kali ganti pembalut
(13) Ekstremitas : Simetris/tidak, oedema/tidak, ada varises/tidak, gerakan aktif/tidak
(14) Punggung : lordosis/kifosis/scoliosis
Palpasi
Palpasi adalah penggunaan sensasi taktil untuk menentukan ciri-ciri suatu sistem organ. Suatu massa berdenyut di abdomen mungkin merupakan suatu aneurisma abdominal. Suatu massa nyeri tekan akut di kuadran kanan atas abdomen yang turun selama inspirasi mungkin merupakan kandung empedu yang meradang. Menurut Saifudin (2002: 124), palpasi dapat digolongkan sebagai berikut
(1) Arteri Radialis : Jumlah nadi dalam satu menit
(2) Mammae : Clostrum/ASI sudah keluar/belum, ada benjolan abnormal/tidak
(3) Abdomen : Nyeri tekan/tidak, ada pembesaran hepar dan limpa/tidak, TFU 2 jari di bawah pusat/tidak, kontraksi baik/tidak
(4) Genetalia : Nyeri tekan pada perineum/tidak
(5) Ekstremitas : Ada tromboflebitis/tidak
Perkusi
Perkusi berkaitan dengan sensasi taktil dan bunyi yang dihasilkan apabila suatu pukulan keras dilakukan pada suatu daerah yang diperiksa. Ini memberikan informasi berharga mengenai struktur organ atau jaringan di bawahnya. Perbedaan sensasi dibandingkan dengan nor­mal mungkin berkaitan dengan cairan di dalam suatu daerah yang seharusnya tidak mengandung cairan. Paru-paru yang kolaps akan mengubah bunyi perkusi, sama halnya dengan massa padat di dalam perut. Perkusi bunyi pekak di garis tengah perut bawah mungkin menunjukkan kandung kemih yang terdistensi. Adapun yang dikaji:
(1) Abdomen : kembung/tidak, ada ascietes/tidak
(2) Reflek Patella : positif/negatif (Saifudin, 2002: 124)
Auskultasi
Auskultasi mencakup mendengarkan bunyi yang di­hasilkan oleh organ dalam. Teknik ini memberikan informasi mengenai patofisiologi suatu organ. Pemeriksa dianjurkan untuk belajar sebanyak mungkin dari teknik-teknik lain sebelum menggunakan stetoskop. Alat ini se­harusnya memperkuat tanda-tanda yang diperoleh dari teknik-teknik lain. Yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan auskultasi adalah:
(1) Dada : ada denyut jantung/tidak, ada bising mur mur/tidak, ada suara wheezing/tidak
(2) Abdomen : ada bising usus/tidak
(3) Arteri Brachialis : systole dan diastole pada pemeriksaan tekanan darah

Kebutuhan Ibu Nifas

Kebutuhan ibu nifas (Mochtar, 1998: 116 ) meliputi:
a. Mobilisasi: karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke- 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan, dan hari ke 4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi di atas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.
b. Diet: makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
c. Miksi: hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang- kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi m. sphincter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi.
d. Defekasi: buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obat laksans per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa dilakukan klisma.
e. Perawatan payudara (mamma): perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara:
(1) Pembalutan mamma sampai tertekan
(2) Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan parlodel. Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya.
f. Laktasi: Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu:
(1) Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah
(2) Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum. berwarna kuning-putih susu.
(3) Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, di mana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
(4) Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang. Maka timbul pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping ilu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan,
Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise. Produksi air susu ibu (ASI) akan lebih banyak. Sebagai efek positif adalah involusi uteri akan lebih sempurna. Di samping ASI meru­pakan makanan utama bayi yang tidak ada bandingannya, menyusukan bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa kasih sayang antara ibu dan anaknya. Air susu ibu adalah untuk anak ibu. Ibu dan bayi dapat ditempatkan dalam satu kamar (rooming in) atau pada tempat yang terpisah. Keuntungan rooming in:
(1) mudah menyusukan bayi,
(2) setiap saat selalu ada kontak antara ibu dan bayi dan
(3) sedini mungkin ibu telah belajar mengurus bayinya.
g. Cuti hamil dan bersalin: menurut undang-undang, bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah persalinan.

Rooming in

Rawat gabung atau rooming in ialah suatu sistem perawatan di mana bayi serta ibu dirawat dalam satu unit. Dalam pelaksanaannya bayi harus selalu berada di samping ibu sejak segera setelah dilahirkan sampai pulang. Ini bukan suatu yang baru. Di Indonesia persalinan 80% terjadi di rumah dan bayinya langsung dirawat gabung. Untuk persalinan di rumah sakit terdapat modifikasi dalam praktek bahwa pada saat kunjungan bayi ditempatkan dalam suatu station bayi agar tidak ada kontaminasi dengan pengunjung. Station bayi dibuat dengan dinding kaca agar pengunjung dapat melihat bayi (Wiknjosastro, 2002: 266)
Tujuan rawat gabung :
a. Bantuan emosional. Setelah menunggu selama sembilan bulan dan setelah lelah dalam proses persalinan si ibu akan sangat senang bahagia bila dekat dengan bayi. Si ibu dapat membelai-belai bayi, mendengar tangis bayi, mencium-cium dan memperhatikan bayinya yang tidur di sampingnya. Hubungan kedua makhluk mi sangat penting untuk saling mengenal terutama pada hari-hari pertama setelah persalinan. Bayi akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu, kelembutan dan kasih sayang ibu (handing effect).
b. Penggunaan Air Susu Ibu. ASI adalah makanan bayi yang terbaik. Produksi ASI akan lebih cepat dan lebih banyak bila dirangsang sedini mungkin dengan cara menetekkan sejak bayi lahir hingga selama mungkin. Pada hari-hari pertama, yang keluar adalah colostrum yang jumlahnya sedikit. Tidak perlu khawatir bahwa bayi akan kurang minum, karena bayi harus kehilangan cairan pada hari-hari pertama dan absorpsi usus juga sangat terbatas.
c. Pencegahan infeksi. Pada tempat perawatan bayi di mana banyak bayi disatukan, infeksi silang sulit dihindari. Dengan rawat gabung, lebih mudah mencegah infeksi silang. Bayi yang melekat pada kulit si ibu akan memperoleh transfer antibodi dari si ibu. Kolostrum yang mengandung antibodi dalam jumlah tinggi, akan melapisi seluruh permukaan kulit dan saluran pencernaan bayi, dan diserap oleh bayi sehmgga bayi akan mempunyai kekebalan yang tinggi. Kekebalan ini akan mencegah infeksi, terutama pada diare.
d. Pendidikan kesehatan. Kesempatan melaksanakan rawat gabung dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu, terutama primipara. Bagaimana teknik menyusui, memandikan bayi, merawat tali pusat, perawatan payudara dan nasihat makanan yang baik, merupakan bahan-bahan yang diperlukan si ibu. Keinginan ibu untuk bangun dari tempat tidur, menggendong bayi dan merawat sendiri akan mempercepat mobilisasi, sehingga si ibu akan lebih cepat pulih dari persalinan.
Sebagai pedoman penatalaksanaan rawat gabung telah disusun tata kerja sebagai berikut:
Di poliklinik Kebidanan: memberikan penyuluhan mengenai kebaikan ASI dan rawat gabung; memberikan penyuluhan mengenai perawatan payudara, makanan ibu hamil, nifas, perawatan bayi dan lain-lain; mendemonstrasikan pemutaran film, slide mengenai cara-cara merawat payudara, memandikan bayi, merawat talipusat, Keluarga Berencana dan sebagainya; mengadakan ceramah, tanya jawab dan motivasi Keluarga Berencana; menyelenggarakan senam hamil dan nifas; membantu ibu-ibu yang mempunyai masalah-masalah dalam hal kesehatan ibu dan anak sesuai dengan kemampuan; membuat laporan bulanan mengenai jumlah pengunjung, aktivitas, hambatan dan lain-lain.
Di kamar bersalin: bayi yang memenuhi syarat perawatan bergabung dilakukan perawatan bayi baru lahir seperti biasa. Adapun kriteria yang diambil sebagai syarat untuk dapat dirawat bersama ibunya ialah: — nilai Apgar lebih dari 7; berat badan lebih dari 2500, kurang dari 4000 gram; masa kehamilan lebih dari 36 minggu, kurang dari 42 minggu; lahir spontan presentasi kepala; tanpa infeksi intrapartum; ibu sehat. Dalam jam pertama setelah lahir, bayi segera disusukan kepada ibunya untuk merangsang pengeluaran ASI; memberikan penyuluhan mengenai ASI dan perawat­an gabung terutama bagi yang belum mendapat penyuluhan di poliklinik; mengisi status P3-ASI secara lengkap dan benar. Catat pada lembaran pengawasan, jam berapa bayi baru lahir dan jam berapa bayi disusukan kepada ibunya; persiapan agar ibu dan bayinya dapat bersama-sama ke ruangan.
Di ruang perawatan: bayi diletakkan di dalam tempat tidur bayi yang ditempatkan di samping tempat tidur ibu. Pada waktu berkunjung bayi dan tempat tidurnya dipindahkan ke ruangan lain; perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan dapat dikenali keadaan-keadaan yang tidak normal serta kemudian melaporkan kepada dokter jaga; bayi boleh menyusu sewaktu ia menginginkan; bayi tidak boleh diberi susu dari botol. Bila ASI masih kurang, boleh menambahkan air putih atau susu formula dengan sendok; ibu harus dibantu untuk dapat menyusui bayinya dengan baik, juga untuk merawat payudaranya; keadaan bayi sehari-hari dicatat dalam status P3-ASI; bila bayi sakit/perlu observasi lebih teliti, bayi dipindahkan ke ruang perawatan bayi baru lahir; bila ibu dan bayi boleh pulang, sekali lagi diberi penerangan tentang cara-cara merawat bayi dan pemberian ASI serta perawatan payudara dan makanan ibu menyusui. Kepada ibu diberikan leaflet mengenai hal tersebut dan dipesan untuk memeriksakan bayinya 2 minggu kemudian; status P3-ASI setelah dilengkapi, dikembalikan ke ruangan follow up.
Di ruang follow-up: pemeriksaan di ruangan follow up meliputi pemeriksaan bayi dan keadaan ASI. Aktivitas-aktivitas di ruangan follow up meliputi menimbang berat bayi; anamnesis mengenai makanan bayi yang diberikan dan keluhan yang timbul; mengecek keadaan ASI; memberi nasihat mengenai makanan bayi, cara menyusukan bayi dan makanan ibu yang menyusukan; memberikan peraturan makanan bayi; pemeriksaan bayi oleh dokter bagian anak; pemberian imunisasi menurm instruksi dokter.
Pada prinsipnya syarat rawat gabung (Wiknjosastro, 2002: 268), adalah di mana si ibu mampu menyusui dan si bayi mampu untuk menyusu. Kemampuan si ibu untuk menyusui dimulai dengan keinginan atau kesediaan yang berupa motivasi si ibu sendiri untuk menyusui. Di sinilah pentingnya motivasi diberikan sejak awal kehamilan. Keadaan ibu yang sehat selalu memungkinkan si ibu untuk menyusui.
Dari pihak si bayi kemampuan menyusui dinilai dan fungsi kardiorespiratorik, refleks mengisap dan fungsi neurologik yang baik. Penolong persalinan harus cukup terlatih untuk menilai apakah ibu dan bayi mampu menyusui segera setelah proses persalinan. Apabila ibu dan bayi baik, secepat mungkin bayi diberikan pada ibu dan mulai menyusui. Apabila diperlukan observasi hal ini tentu dapat dilakukan dan setelah ibu dan bayi sudah menjadi lebih baik keadaan umumnya harus segera digabung dan mulai menyusui.
Kontra indikasi:
Pihak ibu
a. Fungsi kardiorespiratorik yang tidak baik. Pasien penyakit jantung kelas II dianjurkan untuk sementara tidak menyusui sampai keadaan jantung cukup baik. Bagi pasien jantung klasifikasi III tidak dibenarkan menyusui. Penilaian akan hal ini harus dilakukan dengan hati-hati.
b. Eklampsia dan preeklampsia berat. Keadaan ibu biasanya tidak baik dan pengaruh obat-obatan untuk mengatasi penyakit biasanya menyebabkan kesadaran menurun sehingga sementara ibu belum sadar betul. Tidak diperbolehkan ASI dipompa dan diberikan pada bayi.
c. Penyakit infeksi akut dan aktif. Bahaya penularan pada bayi yang dikhawatirkan. Tuberkulosis paru yang aktif dan terbuka merupakan kontra indikasi mutlak. Pada sepsis keadaan ibu biasanya buruk dan tidak akan mampu menyusui. Banyak perdebatan mengenai penyakit infeksi apakah dibenarkan menyusui atau tidak.
d. Karsinoma payudara. Pasien dengan karsinoma payudara harus dicegah jangan sampai ASInya keluar karena mempersulit penilaian penyakitnya. Apabila menyusui ditakutkan adanya sel-sel karsinoma yang terminum si bayi.
e. Psikosis: tidak dapat dikontrol keadaan jiwa si ibu bila menderita psikosis. Meskipun pada dasarnya ibu sayang pada bayinya, tetapi selalu ada kemungkinan penderita psikosis membuat cedera pada bayi.
Pihak bayi
a. Bayi kejang, Kejang-kejang pada bayi akibat cedera persalinan atau infeksi tidak memungkinkan untuk menyusui. Ada bahaya aspirasi, bila kejang timbul saat bayi menyusui. Kesadaran bayi yang menurun juga tidak memungkinkan bayi untuk menyusu.
b. Bayi yang sakit berat. Bayi dengan penyakit jantung atau paru-paru atau penyakit lain yang memerlukan perawatan intensif tentu tidak mungkin menyusu dan dirawat gabung.
c. Bayi yang memerlukan observasi atau terapi khusus. Selama observasi rawat gabung tak dapat dilaksanakan. Setelah keadaan membaik tentu dapat dirawat gabung. Ini yang disebut Rawat Gabung tidak langsung.
d. Very Low Birth Weight (Berat Badan Lahir Sangat Rendah), Refleks mengisap dan refleks lain pada VLBW belum baik sehingga tidak mungkin menyusu dan dirawat gabung.
e. Cacat bawaan. Diperlukan persiapan mental si ibu untuk menerima keadaan bahwa bayinya cacat. Cacat bawaan yang mengancam jiwa si bayi merupakan kontra indikasi mutlak. Cacat ringan seperti labioskisis, palatoskisis bahkan labiopalatoskisis masih memungkinkan untuk menyusui.
f. Kelainan metabolik di mana bayi tidak dapat menerima ASI.

Kamis, 22 Januari 2009

Aritmia

Aritmia adalah irama jantung yang abnormal, yaitu jantung berdenyut terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak beraturan. kadang jantung berhenti berdenyut untuk beberapa saat atau jumlah denyutnya menurun.
Pada beberapa keadaan, aritmia muncul dalam bentuk hilangnya kesadaran sesaat atau singkope. Pada kasus ini, penderita disarankan memakai alat monitor holter. Monitor holter adalah alat perekam mini yang melakukan proses EKG selama 24 jam, selama penderita melakukan aktivitasnya sehari-hari. Setelah 24 jam hasil EKG dianalisis dengan komputer untuk mendeteksi adanya aritmia selama periode tertentu.

Acute Miocard Infark (AMI)

Infark Miokard disebabkan oleh tersumbatnya arteri koroner. AMI merupakan keadaan yang sangat berbahaya karena begitu asupan oksigen ke jantung terhenti, otot jantung akan mati dan tidak dapat beregenerasi. Otot yang mati akan digantikan jaringan fibrosa nonaktif, yang membuat jantung kehilangan sebagian otot tersebut untuk memompa darah ke seluruh tubuh. AMI bisa menimbulkan artimia bahkan kematian.
Gejala
Nyeri yang menjalar ke bahu, rahang, lengan kiri, punggung atau bahkan di epigastrium yang kadang dikira hanya peyakit gastritis (magh) biasa. Nyeri akibat infark tidak dapat diredakn dengan istirahat atau nitrogliserin dan biasanya disertai keluarnya keringat dingin, mual dan muntah kadang seperti perasaan masuk angin.
Periode kritis pada jam-jam pertama setelah serangan. Semakin cepat dibawa ke rumah sakit, semakin besar peluang untuk bertahan hidup.
Diagnosa
Perubahan EKG muncul beberapa jam setelah serangan pertama. Jika terjadi kerusakan otot dalam darah terdapat enzim kreatinin fosfokinase dan enzim SGPT. Biasanya dokter akan mengirim penderita ke ICU untuk diobservasi apabila dicurigai adanya AMI.
Penatalaksanaan
Obat vasodilatasi dan obat-obatan untuk mengurangi beban jantung.

Angina Pektoris

Nyeri dada yang timbul saat pengerahan tenaga seperti saat berjalan atau berlari yang lalu hilang saat beristirahat, merupakan gejala angina pektoris yang paling umum. Nyeri bisa meluas ke leher, bahu atau lengan kiri dan digambarkan sebagai sensasi diremas, ditusuk-tusuk, perasaan seperti ditindih ataupun rasa panas yang menjalar. Nyeri ini dihubungkan dengan takikardi dan sesak nafas. Pada beberapa keadaan nyeri bisa berlangsung berjam-jam dan menjadi pertanda adanya Infark Miokard.

Penyebab utama angina adalah terjadi penyempitan artei koroner. Pengerahan tenaga meningkatkan jumlah kebutuhan oksigen sehingga jantung berdenyut lebih cepat. Normalnya arteri koroner akan melebar untuk menyuplai lebih banyak oksigen dalam darah ke otot jantung. Akan terjadi iskhemik pada miokardium sehingga timbul nyeri yang merupakan warning dari sistem tubuh. Biasanya angina diatasi dengan obat vasodilatasi (seperti nitrat) atau bisa juga dengan obat beta-blockers untuk melambatkan denyut jantung.

Diagnosa dengan EKG pada uji latihan beban atau treadmill

Rabu, 21 Januari 2009

Virginitas

Virginitas atau keperawanan tidak hanya dilihat dari robeknya hymen (selaput dara). Saya sering menjumpai kasus ABG yang khawatir udah nggak perawan hanya karena jatuh dari pohon atau kena benturan sepeda sampai berdarah kemaluannya. Hilangnya virginitas hanya bila seorang wanita telah berhubungan seksual.
Bentuk dan tebal tipisnya hymen pada tiap wanita berbeda-beda. Seringkali teman-teman saya yang baru merried datang sambil nangis-nangis karena suaminya curiga dan marah-marah dikira dia udah nggak perawan pas nikah hanya karena nggak berdarah saat Malam Pertama. Kasian bener nasib cewek ya kalo gitu? Udah katanya Malam Pertama tuh sakit banget, mesti diomelin sama suami, pake dicurigai nggak perawan segala, sampai perlu membuktikan ke Obgyns.
Lagian, darah karena robeknya hymen jangan dianggap kayak darah haid. Darah itu kadang sedikit dan di vagina akan bercampur dengan lubricant dari si wanita dan cairan semen pria, jadi pas mengalir keluar, warnanya udah nggak merah lagi.
Ada orang yang sekalinya berhubungan keluar darah. Tapi banyak juga yang beberapa kali berhubungan suami istri, nggak keluar darah juga. Anehnya nih, ada remaja yang merasa masih perawan hanya karena tidak keluar darah, padahal udah berkali-kali ML sama pacarnya. Gila tuh cewek!!! Masih merasa nggak dosa aja. Jangan dikira juga dengan 1 kali ML nggak bakal hamil. SALAH BESAR!!! Kalo pas itu masa subur, ya bisa jadi deh. Contohnya korban perkosaan. Makanya hati-hati dalam bergaul. Pacaran boleh, asal jangan kebablasan, harus bisa jaga diri. Sekalinya seseorang zina, orang tua bisa ikut masuk neraka. Masa nggak kasian juga ma ortu??? Hanya karena nafsu sesaat. So, keep your self!!!

Dismenorrhea

Dismenorrhea adalah nyeri yang hebat pada perut bagian bawah saat haid sampai mengganggu aktivitas sehari-hari biasanya disertai mual, muntah, diare, pusing, malaise, myalgia bahkan bisa sampai pingsan.
Jenisnya ada dua :
Dismenorrhea Primer
Yaitu nyeri haid dirasakan sejak menarche (pertama kali mendapat haid). Dapat terjadi karena gangguan hormonal pada masa pubertas dimana siklus haidnya ada yang bersifat anovulatoar.
Dismenorrhea Sekunder
Yaitu terjadi beberapa waktu setelah menarche (misal 1 tahun setelah haid yan pertama). Biasanya dikaitkan dengan gangguan-gangguan ginekologi seperti endometriosis, myoma uteri, kista dsb.
Dismenorrhea ini merupakan salah satu gejala dari endometriosis, namun endometriosis tidak selalu ditandai dengan dismenorrhea. Ada kalanya seseorang terkena endometriosistanpa gejala sama sekali, tapi kemudian ditemukan adanya kista coklat/endometrioma. Semakin hebat nyeri pada saat haid tidak berarti semakin parah tingkat endometriosisnya karena ambang nyeri tiap orang juga berbeda, tapi berat tidaknya endometriosis dilihat dari seberapa luas sebaran lesi sel-sel endometrium di luar kavum uteri.
So girls, bagi kamu yang saat haid nyerinya luar biasa & nggak bisa ngapa-ngapain, mesti warning nih! Nggak ada salahnya kalau kamu kunjungi Obgyns terdekat di kotamu...

Endometriosis

DEFINISI
Endometriosis dalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Sering ditemukan pada ovarium, peritoneum & ligamentum sakrouterine, kavum douglas, dinding belakang uterus, tuba, vesicouterina, ligamentum rotundum & sigmoid. Septum rektovaginal, kanalis inguinalis, apendiks, umbilikus, serviks, vagina, VU, vulva, perineum, parut laparotomi, kelenjar limfe, lengan, paha, pleura dan perikardium (jarang).
GEJALA
Perdarahan periodik menyebabkan reaksi jaringan sekitarnya berupa radang & perlekatan. Secara mikroskopik merupakan kelainan jinak
akan tetapi, sifatnya seperti tumor ganas
Dismenorrhea
Vaskularisasi & perdarahan dalam sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid
Dispareuni
Endometriosis dalam kavum douglas
Nyeri waktu defekasi
Terutama pada waktu haid karena endometriosis di dinding rektosigmoid
Polimenorrhea & Hipermenorrhea
Kelainan pada ovarium yang luas sehingga fungsi ovarium terganggu
Infertilitas
Mobilitas tuba karena fibrosis & perlekatan jaringan sekitar
Px vagino rekto abdominal
Endometriosis ringan : teraba benda2 padat seperti butir beras sampai jagung di kavum douglas & pada ligamentum sakrouterine dengan uterus retrofleksi & terfiksasi
ETIOLOGI
Teori Sampson
Darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis
Teori Robert Mayer
Rangsangan pada sel2 epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya di daerah pelvis. Rangsangan ini menyebabkan metaplasia dari sel2 epitel itu, sehingga terbentuk jaringan endometrium. Kemungkinan dapat terjadi karena penyebaran melalui jalan darah atau limfe dan dengan implantasi langsung dari endometrium pada saat operasi
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksan fisik
Px laparoskopi
Biopsi pada vagina posterior, perineum, parut laparotomi dsb
Sigmoidoskopi & sistoskopi, memperlihatkan tempat perdarahan waktu haid
Px Rontgen dengan memasukkan barium ke dalam kolon, tampak gambaran rektosigmoid dengan batas2 yang jelas & mukosa utuh
DIAGNOSA DIFFERENSIAL
Adenomiosis
Radang pelvik
Tumor adneksa
Kista ovarium
Ca Rektum
PENANGANAN
1.Pencegahan
2.Observasi & Pemberian Analgetika
3.Pengobatan Hormonal
4.Pengobatan dengan pembedahan
5.Pengobatan dengan radiasi
PENCEGAHAN
1. Kehamilan
Gejala endometriosis berkurang/hilang karena regresi endometrium dalam sarang2 endometriosis
2. Jangan melakukan pemeriksaan kasar/Curretage pada saat haid karena darah akan mengalir ke tuba
PENGOBATAN HORMONAL
Prinsip :
1.Menciptakan Lingkungan hormon rendah estrogen & asiklik
Estrogen rendah, atrofi jaringan
Asiklik, mencegah haid, tidak terjadi pelepasan jaringan endometrium yang normal maupun endometriosis
2. Menciptakan lingkungan hormon tinggi androgen & progesteron
Progesteron sintetik, atrofi jaringan endometriosis
Tinggi androgen/progesteron menyebabkan keadaan rendah estrogen yang asiklik karena gangguan pertumbuhan folikel
PENGOBATAN DENGAN PEMBEDAHAN
1. Pengangkatan sarang2 endometriosis & sebisa mungkin perlekatan2 dilepaskan
2. Apendiktomi
3. Laparotomi/laparoskopi
4. Operasi radikal : histerektomi, salpingo-ooforektomi bilateral

Myometritis

Definisi
Radang pada miometrium
Etiologi
Infeksi PP/abortus septik & infeksi post curretage
Gejala
Menometrorrhagia, leukorea, subinvolusi, lochea berbau
Diagnosa : USG
Penanganan
Ampicillin 2 g IV 1 g tiap 6 jam ditambah Gentamicyn 5 mg/Kg BB IV dosis tunggal Metronidazole 500 mg IV tiap 8 jam

Endometritis

Definisi
Peradangan pada endometrium
Etiologi
GO, Infeksi PP & postabortum/abortus inkomplet, IUD & luka bekas implantasi plasenta
Gejala
Endometritis Akut : demam tinggi, tampak sakit keras, nyeri perabaan
Endometritis kronik (jarang terjadi) : leukorea & menorrhagia
Diagnosa
Endometritis akut : oedema pada endometrium
Endometritis kronik : banyak sel plasma & limfosit pada px mikroskopik
Penanganan
Antibiotik, Mencegah agar infeksi tidak meluas, Curretage & Histerektomi

Cervisitis

Definisi
Peradangan pada cervix
Etiologi : Infeksi
Gejala
Dispareuni, contact bleeding, flour albus, spotting, >40 th warning Ca Cervix
Diagnosa
Cervisitis akut : cervix bengkak, kemerahan, mengeluarkan cairan mukopurulen
Cervisitis kronik : cervix tampak normal, infiltrasi leukosit & robekan cervix lebih luas
Penanganan
Kauterisasi
Radang menahun sampai endo cervix : konisasi
Amputasi cervix

Kandidiasis

Etiologi
Candida Albicans
Gejala
Leukorea kental, putih susu dan sangat gatal
Diagnosa
Radang vulva & vagina
Px spekulum : membran putih pada dinding vagina
Terapi
Gentian Violet 0,5 – 1%
Albotyl
Vaginal Mycostatin
Metronidazole

Trichomoniasis

Etiologi
Trichomonas Vaginalis
Gejala
Leukorea encer – kental kekuningan dan agak berbau
Diagnosa
Px mikroskopik : sekret dinding vagina
Terapi
Metronidazole 250 mg tiap 6 jam
Flagyl 500 mg tiap 12 jam pervaginal

Leukorrhea

LEUKORRHEA FISIOLOGIS
•Bayi sampai umur 10 hari
•Sekitar menarche
•Foreplay pre coitus
•Sekitar ovulasi
•Kehamilan
•Akseptor alkon hormonal & IUD
•Stress
LEUKORRHEA PATOLOGIS
•Sekret kental, putih seperti susu, gatal
•Sekret kekuningan – kehijauan, agak berbau
•Sekret keabu-abuan
•Sekret berupa nanah, disuria, dispareuni
•Sekret kecoklatan, contact bleeding
•Sekret bercampur darah, bau busuk

Kondiloma Akuminata

Berbentuk kembang kol, dalam bentuk kecil & besar, sendirian/kelompok pada vulva, perineum, anal, cervix uteri & sering dijumpai leukorea
Etiologi
Infeksi virus HPV
Penanganan
Pembedahan/kauterisasi

Kista Bartholini

•Definisi
Peradangan kelenjar bartholini (Glandula Vestibula Mayor)
•Etiologi
Infeksi Streptococcus & E. Coli
•Gejala
Benjolan abnormal, rasa berat pada vulva, nyeri, panas di daerah sekitar
•Diagnosa
Pembesaran kelenjar bartholini & inflamasi
•Penanganan
Marsupialisasi, Ekstirpasi in toto & AB

Vulvitis-Vaginitis

•Definisi
Vulvitis : Peradangan pada vulva
Vaginitis : Peradangan pada lapisan vagina
•Etiologi
Infeksi, Zat/benda yang bersifat iritatif & Tumor/jaringan abnormal lainnya
•Gejala
Flour Albus, Vulva/Vagina gatal/perasaan terbakar, Eritema
•Diagnosa
Px fisik & karakteristik discharge
Inspeksi & px spekulum : adanya peradangan
•Penanganan
Antibiotik (Metronidazole, Ceftriaxon dsb)
Personal higiene

Polip Endometrium

•Pengertian
Hyperplasi jaringan endometrium, bertangkai dengan diameter 0,5-3 cm dan sebagian besar timbul pada masa menopause
•Etiologi : Radang Kronik dan Infeksi
•Macam
Adenoma-Adenofibroma, Mioma Submukosum dan Polip Plasenta
•Gejala
Spotting, Kolik/nyeri abdomen, Infertilitas dan Subinvolusi
•Diagnosa : Px USG dan Histeroskopi
•Penatalaksanaan
Kauterisasi, Curretage dan Histerektomi

Erosi & Ulkus Porsio

•Pengertian
Erosi Porsio : terkikisnya jaringan permukaan porsio
Ulcus Porsio : kerusakan epidermis porsio hingga lapisan yang lebih dalam dan menimbulkan jaringan parut
•Etiologi
Radang kronik dan trauma
•Gejala
Flour Albus, Perdarahan, Dispareuni, Demam dan nyeri
•Diagnosa
Px Inspekulo : adanya peradangan
•Penatalaksanaan
Tx : Albotyl, Metronidazol 500 mg tiap 6 jam dan Paracetamol 500 mg tiap 4 jam
Bed Rest, Tindakan bedah dan drainage

Polip Cerviks

•Pengertian
Masa bertangkai (1-2 cm) pada kanalis servikalis yang berasal dari epitel endoservikal, bersifat lunak dan mudah berdarah.
•Etiologi : Infeksi menahun
•Gejala
Flour albus, Spotting, Dispareuni dan Inflamasi
•Diagnosa
Px inspekulo : tampak masa bertangkai menjuntai ke OUE
Tidak dianjurkan untuk PD
•Penatalaksanaan
Pengangkatan polip dan diperiksa secara histologik
Mini Curretage

Perdarahan Bukan Haid

•Pengertian
Perdarahan bukan haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid.
•Macam : Metrorrhagia & Menometrorrhagia
•Etiologi
Sebab organik dan Perdarahan disfungsional
SEBAB ORGANIK
•Serviks uteri : polip serviks, erosi porsio, ulkus porsio dan karsinoma serviks
•Korpus uteri : polip endometrium, abortus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusi uteri dsb
•Tuba Fallopii : KET, radang tuba & tumor tuba
•Ovarium : radang dan tumor ovarium
PERDARAHAN DISFUNGSIONAL
•Perdarahan Ovulatoar
Yaitu perdarahan disfungsional dengan ovulasi
•Perdarahan Anovulatoar
Yaitu perdarahan disfungsional tanpa ovulasi
PERDARAHAN OVULATOAR
•Etiologi
Korpus luteum persistens
Insufisiensi korpus luteum
Apopleksia uteri
Kelainan darah, ex : anemia, leukimia
•Gejala
Polimenorrhea, Oligomenorrhea
•Diagnosis
Curretage sebelum haid
PERDARAHAN ANOVULATOAR
•Stimulasi estrogen menyebabkan pertumbuhan endometrium penurunan estrogen yang menimbulkan perdarahan
•Terjadi di usia pubertas dan premenopause
•Pubertas : gangguan maturasi hipotalamus pembuatan RH dan GnRH tidak sempurna
•Premenopause : terhentinya fungsi ovarium
•Stress mengganggu keseimbangan hormonal
DIAGNOSA
•Anamnesa : mulainya perdarahan, sifat perdarahan, lama perdarahan dsb
•Pemeriksaan umum : TTV, pemeriksaan fisik head to toe (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), pemeriksaan laboratorium (Hb, leukosit, pemeriksaan urine dsb)
•Anamnesa : mulainya perdarahan, sifat perdarahan, lama perdarahan dsb
•Pemeriksaan umum : TTV, pemeriksaan fisik head to toe (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), pemeriksaan laboratorium (Hb, leukosit, pemeriksaan urine dsb)
PENANGANAN
•Anamnesa : mulainya perdarahan, sifat perdarahan, lama perdarahan dsb
•Pemeriksaan umum : TTV, pemeriksaan fisik head to toe (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), pemeriksaan laboratorium (Hb, leukosit, pemeriksaan urine dsb)
125 mg per IM atau norethindrone 15 mg per Os atau DMPA 10 mg)
•Penatalaksanaan sesuai dengan penyebab
•Histerektomi

Peranan Bidan dalam Pemberantasan PMS

PMS menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan, kehamilan dan persalinan yang beresiko bahkan kematian. Resiko wanita untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki sebab alat reproduksinya lebih rentan. Dan seringkali berakibat lebih parah karena gejala awal tidak segera dikenali, sedangkan penyakit melanjut ke tahap lebih parah. Sebagai tenaga medis, bidan berperan dalam penanggulangan masalah penyakit menular seksual yang sering terjadi di masyarakat. PMS itu sendiri perlu dipahami oleh masyarakat, termasuk bahayanya, pencegahan, screening (deteksi dini) dan penanganannya. Dalam hal ini harus ada sosialisasi dan kerjasama semua pihak yang terkait, termasuk tenaga medis lain yang berkolaborasi dalam tim maupun system rujukan.Upaya yang dilakukan dalam rangka pemberantasan penyakit HIV/AIDS disamping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan diarahkan pada upaya pencegahan yang dilakukan melalui skrening HIV/AIDS terhadap darah donor, mengetahui persentasi donor darah yang discreening terhadap HIV-AIDS, upaya pemantauan dan pengobatan penderita penyakit menular seksual (PMS) serta meningkatkan cakupan penanganan kasus HIV-AIDS, infeksi menular seksual.
Peran bidan dalam pemberantasan PMS juga ditegaskan dalam kompetensi ke-2 Permenkes No. 900/MENKES/SK/VII/2002 :
· Penyuluhan kesehatan mengenai PMS, HIV/AIDS, dan kelangsungan hidup anak.
· Tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan penyakit menular seksual yang lazim terjadi.

Visi Indonesia Sehat 2010

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Maka, pembangunan kesehatan dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan mulai dari tingkat pusat sampai ke kabupaten/kota. Untuk itu, ditetapkan visi pembangunan kesehatan Indonesia adalah Indonesia Sehat 2010.
Data Kematian Ibu tahun 2003 masih berkisar 307/100.000 KH, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) juga masih sekitar 35/1000 KH. Ada banyak faktor yang mempengaruhi AKI dan AKB tetapi tidak mudah menemukan faktor yang paling dominan. Salah satu penyebab mengapa AKI dan AKB masih cukup tinggi di Indonesia karena sebagian besar masyarakat masih kurang peduli akan kesehatan repoduksi terutama bagi wanita. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus Penyakit Menular Seksual di tiap daerah.Diharapkan pada tahun 2010 AKI maupun AKB menurun hingga 75%. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibiitas dan pelayanan tenaga medis dalam bidang kesehatan reproduksi yang merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadalp tingkat AKI dan AKB.

Selasa, 20 Januari 2009

Konsep Kebidanan

Kata bidan berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Wirdhan yang artinya wanita bijaksana. Pada saat ini pengertian bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan kebidanan yang diakui dan mendapatkan lisensi untuk melaksanakan praktek kebidanan. Bidan merupakan orang yang berada di posisi istimewa yang bertugas memberi asuhan dan dukungan selama masa-masa penting dalam kehidupan seorang wanita. Tanggung jawab bidan adalah memonitor kondisi ibu dan janin dalam uterus, mengenali adanya abnormalitas yang mungkin membutuhkan penanganan dan tindakan yang tepat dari dokter. Tujuan asuhan kebidanan adalah untuk membantu kelahiran seorang bayi yang sehat keluar dengan sehat dan memuaskan ibu.
Profesi adalah pekerjaan yang menuntut dan dapat dipenuhi lewat pembiasaan melakukan ketrampilan tertentu (magang, keterlibatan langsung dalam situasi kerja di lingkungannya dan ketrampilan kerja). Kebidanan merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu manajemen untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu pada masa pra konsepsi, masa hamil, ibu bersalin, ibu postpartum, bayi baru lahir
Dalam melaksanakan profesinya bidan memiliki peran sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti.